Selasa, Oktober 26onlinenews.co.id
Shadow

Studi: Polusi Udara Berpotensi Buat COVID-19 Makin Parah

ONLINENEWS : Studi terkait COVID-19 terus dilakukan di seluruh dunia demi menemukan pengobatan dan vaksinasi yang lebih menjanjikan ke depannya.

Dikutip dari Reuters, Selasa (13/7), salah satu hasil studi menemukan adanya korelasi antara polusi udara dan COVID-19 yang lebih ganas. Menurut sebuah penelitian dari salah satu kota paling tercemar di Amerika, terungkap fakta bahwa pasien COVID-19 yang membutuhkan perawatan intensif kebanyakan tinggal di wilayah dengan tingkat polusi yang tinggi.

Para peneliti mempelajari 2.038 pasien COVID-19 dewasa yang dirawat di rumah sakit di daerah Detroit. Hasilnya, mereka yang membutuhkan perawatan intensif dan bantuan alat untuk bernapas kebanyakan tinggal di lingkungan dengan tingkat polusi udara.Semakin buruk kualitas udara, semakin tinggi kemungkinan butuh perawatan intensif dan ventilasi mekanis.Dokter dari Rumah Sakit Henry Ford Detroit, Anita Shallal, menjelaskan efek jangka panjang polusi udara yakni dapat merusak sistem kekebalan dan membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi virus. Partikel halus dalam polusi udara juga dapat menjadi pembawa virus dan membantu penyebarannya.

“Studi ini menarik perhatian pada ketidaksetaraan sistemik yang mungkin menyebabkan perbedaan mencolok dalam hasil COVID-19 di sepanjang garis ras dan etnis,” kata Shallal.”Komunitas kulit berwarna lebih mungkin berlokasi di daerah yang lebih dekat dengan polusi industri, dan bekerja di bisnis yang membuat mereka terpapar polusi udara,” tambahnya.

Varian Beta Tingkatkan Risiko Pasien Dirawat Inap dan KematianStudi lain yang dirangkum Reuters yakni studi soal varian Beta yang mungkin lebih mematikan dibanding COVID-19 versi terdahulu. Hal ini berdasarkan studi para peneliti di Afrika Selatan yang mempelajari lebih dari 1,5 juta pasien COVID-19.Meskipun varian Delta sekarang menyumbang persentase terbesar dari kasus COVID-19 di banyak negara, tapi varian Beta juga masih beredar dengan mutasi yang membuatnya sangat menular dan lebih sulit untuk dicegah atau diobati daripada versi aslinya.

Para peneliti menemukan, orang yang terinfeksi pada gelombang kedua pandemi, ketika varian Beta dominan, lebih berisiko membutuhkan rawat inap. Sedangkan pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit memiliki risiko kematian 31 persen lebih tinggi pada gelombang pertama menurut laporan yang diterbitkan The Lancet Global Health.Penulis Dr. Waasila Jassat dari Institut Nasional untuk Penyakit Menular di Johannesburg mengatakan, para peneliti tidak mengetahui varian yang menginfeksi setiap pasien.Oleh sebab itu mereka harus menggunakan periode gelombang pertama dan kedua sebagai proyeksi untuk mengelompokkan tipe varian.”Kami berharap untuk mengulangi analisis, membandingkan gelombang ketiga di Afrika Selatan dengan dua gelombang pertama, untuk mencoba memahami apakah gelombang Delta dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi,” kata Jassat.

Sumber

WhatsApp chat