Minggu, Oktober 24onlinenews.co.id
Shadow

Sinergi dengan AIPNI dan YPPGMI, BP2MI Fokus 2022 Sebagai Tahun Penempatan Pekerja Migran

Bandung, Onlinenews.co.id – Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) kembali menjalin sinergi dan kolaborasi dengan menandatangani Nota Kesepahaman dengan Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) dan Yayasan Pendidikan Pembangunan Generasi Muda Indonesia (YPPGMI).

Kepala BP2MI, Benny Rhamdani  menyampaikan, setelah satu tahun dilantik sebagai pimpinan tertinggi di BP2MI, Benny mengajak seluruh jajarannya untuk turun ke bawah dan menyosialisasikan tentang Undang-undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, bergandengan tangan dengan pemerintah daerah dan berbagai stakeholder melalui penandatanganan Nota Kesepahaman dan perjanjian kerja sama.

“BP2MI fokus untuk menjadikan tahun 2022 sebagai tahun penempatan. Namun, tentu tidak mengabaikan tugas pelindungan dan perang total melawan sindikat penempatan ilegal PMI. Genderang perang sudah kita tabuh dan tidak akan pernah berhenti. Saya pastikan bahwa saya akan menjadi mimpi buruk bagi para sindikat dan mafia penempatan ilegal PMI dan praktik ijon rente yang menjarah para PMI,” pungkas Benny di InterContinental Bandung Dago Pakar, Bandung,  Senin (5/10/2021).

Untuk mendukung langkah itu, lanjut Benny, perlu adanya penyiapan sumber daya manusia dan sosialisasi hingga lapisan paling bawah, termasuk mengajak semua unsur untuk terlibat. “Penandatanganan Nota Kesepahaman dengan AIPNI dan YPPGMI hari ini adalah titik awal untuk merebut peluang kerja di luar negeri, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Jerman. Ketiga negara tersebut memiliki undang-undang perlindungan warga negara asing yang baik dan memiliki tingkat standar gaji yang tinggi. Hingga saat ini, sudah ada 18.000 pendaftar untuk program penempatan Government to Government (G to G) bagi perawat,” tambahnya.

Anggota DPR RI Komisi IX, Edy Wuryanto, menyambut baik rencana perluasan kesempatan kerja bagi para perawat di Indonesia. Menurutnya, kualiatas sumber daya manusia di Indonesia sudah harus setara dengan standarisasi internasional. “Jika peluangnya dapat ditangkap dengan baik, maka akan menjadi potensi yang baik bagi Indonesia. Kerja sama dengan AIPNI adalah langkah yang baik. AIPNI menjadi hulu dan BP2MI adalah hilirnya. Kita kikis permasalahan di antaranya satu persatu,” tegas Edy.

Muhammad Hadi selaku Ketua Umum AIPNI merasa sangat bersyukur atas momentum bersejarah ini. Ia menuturkan, ada 335 perguruan tinggi di seluruh Indonesia yang telah menghasilkan perawat profesional bahkan hingga ke luar negeri. “Kami akan manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Saya yakin penandatangan nota kesepahaman hari ini akan mendongkrak minat bekerja ke luar negeri dan menanggulangi adanya kelebihan jumlah tenaga kerja di Indonesia,” imbuh Hadi.

Ketua YPPGMI, Asep Ikhsan, mengapresiasi inisiasi kerja sama dari BP2MI. Ini merupakan momen yang menjadi kekuatan baru bagi YPPGMI yang dengan segala keterbatasan tapi harus tetap memiliki standar dan mutu. “Saya berharap setelah kesepakatan ini ada aktualisasi untuk kesepakatan yang telah dilakukan hari ini. Kami seperti diberikan nafas kembali untuk dapat mengemban tugas kami dengan penuh kemandirian, mutu, ciri khas, dan tanggung jawab,” ujar Asep. 
( Hans)

WhatsApp chat