Minggu, Oktober 17onlinenews.co.id
Shadow

Seperti Samsung, Ericsson Juga Babak Belur di China

ONLINENEWS : Jakarta — Meski merupakan pasar telekomunikasi terbesar di dunia, China sejatinya tak ramah bagi vendor asing. Banyak pemain global yang akhirnya merasakan kegetiran berbisnis di China. Terbaru menimpa vendor jaringan asal Swedia, Ericsson. Dinamika politik yang melibatkan China dan Swedia, membuat Ericsson menjadi korban dari perseteruan kedua negara.

Seperti dilaporkan Mobile World Live, China menyumbang sekitar 10% dari pendapatan Ericsson pada tahun lalu, tetapi turun tajam setelah Swedia melarang Huawei dari pembangunan jaringan 5G, dengan alasan risiko keamanan. Tuduhan yang dibantah keras oleh Huawei karena tanpa disertai bukti nyata.

Ericsson kini hanya mendapatkan sekitar 2% dari kontrak 5G dari China Mobile, padahal sempat menggenggam 11% kontrak pada tahun lalu. Vendor yang berbasis di Stockholm itu, juga hanya memperoleh 3% saham dalam kontrak radio 5G dari dua operator lainnya, China Telecom dan China Unicom.

Ericsson, yang pernah menjadi pemasok utama peralatan telekomunikasi di China, mengatakan pada Juli lalu bahwa pendapatan pada Q2-2021 di negara itu turun hampir 60% dari tahun lalu. Belakangan seperti dilaporkan oleh Reuters, Ericsson mengatakan tidak lagi mengandalkan tender 5G di China yang sebelumnya diharapkan akan dimenangkan.

Sejatinya, Ericsson telah memperingatkan bahwa bisnisnya di China dapat terancam oleh ketegangan geopolitik jika otoritas Swedia melarang Huawei memasok peralatan ke jaringan 5G. Perusahaan telah berkampanye selama berbulan-bulan menentang larangan tersebut. Sayangnya lobi-lobi yang dilakukan oleh Ercisson tak mengubah pendirian pemerintah Swedia.  Larangan itu tetap berlaku dan telah ditegakkan di pengadilan.

Sebelumnya para analis telah memperingatkan Ericsson, bahwa perusahaan yang berbasis di pusat teknologi Kista di utara Stockholm itu, dapat kehilangan sebagian besar bisnisnya di China. Kontrak yang sebelumnya digenggam Ericsson dapat beralih ke pesaing sesama negara Nordik, Nokia.

China adalah pasar 5G terbesar di dunia, dengan hampir 1 juta BTS 5G beroperasi pada paruh pertama 2021. Negara ini telah berada di garis depan dalam menyebarkan jaringan 5G dan menyumbang lebih dari setengah peralatan yang digunakan secara global untuk jaringan generasi berikutnya, menjadikannya pasar penting bagi pembuat peralatan telekomunikasi mana pun.

Di luar volume penjualan yang besar, menjadi yang terdepan berarti China menyediakan tempat uji coba untuk teknologi 5G canggih yang dapat dimanfaatkan Ericsson dan Nokia saat menyebarkan jaringan di seluruh dunia.

Imbas dari penurunan kontrak, membuat Ericsson tak punya banyak pilihan, selain memangkas biaya.  Salah satu langkah drastis adalah terpaksa menutup satu dari lima pusat penelitiannya di China, dengan rencana untuk mentransfer 630 karyawan yang berlebihan ke mitra.

Seperti dilaporkan South China Morning Post (SCMP) Kamis (9/9/2021), Ericsson akan menutup fasilitas R&D yang terletak di sebelah timur kota Nanjing. Fasilitas ini telah berdiri sejak 2001, sebagai upaya Ericsson mengembangkan teknologi 5G.

Karyawan yang terdampak dari penutupan itu, telah menerima proposal untuk pindah ke TietoEVRY, penyedia perangkat lunak asal Finlandia yang berkantor di China. Ericsson mengkonfirmasi bahwa mereka akan melepaskan semua kegiatan penelitian dan pengembangan produknya di Nanjing ke TietoEVRY efektif mulai 1 November 2021.

Penutupan fasilitas R&D di Nanjing, membuat Ericsson kini hanya memiliki empat pusat penelitian utama yang tersisa di China. Keempatnya terletak di Beijing, Shanghai, Guangzhou dan Chengdu. Sebelumnya kelima pusat penelitian itu mempekerjakan lebih dari 5.000 orang, dengan pengeluaran tahunan mencapai 3 miliar yuan (US$464 juta).

Meski kini kinerja Ericsson tengah menukik di China, perusahaan akan terus berupaya untuk membalikkan keadaan.

“Kami telah berada di China selama 120 tahun dan saya tidak berniat untuk menyerah dengan mudah,” kata Borje Ekholm dalam sebuah wawancara dengan Reuters. “Kami akan menunjukkan bahwa kami dapat menambah nilai bagi China”, pungkas CEO Ericsson itu.

Samsung Anjlok

Terpuruknya bisnis Ericsson di China, mengulang pengalaman serupa yang pernah dialami oleh perusahaan raksasa lainnya, Samsung. Menyandang predikat sebagai vendor ponsel terbesar di dunia, nyatanya Samsung tak mampu bersaing dengah vendor-vendor China.

Pemain-pemain teratas (Huawei, Oppo, Vivo, Realme, Honor dan Xiaomi) terus memperkuat posisi. Membuat peta dan pangsa pasar berubah drastis. Di sisi lain, chaebol Korsel itu, juga tak kuasa membendung penurunan penjualan dari berbagai line up Galaxy, terutama smartphone kelas menengah dan high end.

Menurut laporan South China Morning Post, sejak 2016, tak satupun ponsel Galaxy besutan Samsung berhasil masuk daftar 10 ponsel terlaris di China.

Sebelum kebangkitan vendor-vendor domestik, Samsung merupakan pemain dominan di China. Menurut catatan Strategy Analytics, pada 2011 pangsa pasar Samsung di China sebesar 12,4%. Kemudian melonjak menjadi 19,7% pada 2013. Namun, pencapaian Samsung pada tahun-tahun berikutnya menjadi anti klimaks.

Pada 2015, pangsa pasar vendor asal negeri Ginseng itu langsung anjlok menjadi 7,6%. Kuartal pertama 2017, amblas lagi menjadi 2,7%. Di kuartal terakhir 2017, market share Samsung tinggal tersisa 0,8%.

Menurut analis Cape Investment & Securities Park Sung-Soon sebagaimana dilansir dari GSMArena, Kamis (3/10/2019) menyusutnya pangsa pasar Samsung di China, karena konsumen di sana lebih banyak beralih ke produk lokal yang lebih terjangkau. Sedangkan kalangan menengah atas, memilih Huawei atau Apple untuk model premium.

Kekalahan Samsung melawan merek lokal, pada akhirnya berujung dengan ditutupnya dua pabrik smartphone  mereka di Negeri Tirai Bambu tersebut. Diketahui, Samsung telah menutup pabrik di Huizhou. Padahal sebelumnya, pabrikan asal Korea Selatan itu sudah menghentikan fasilitas yang sama di Tianjin.

Rentang penutupan pabrik ponsel di Tianjin dan Huizhou terbilang cukup dekat. Penutupan pabrik di Tianjin dilakukan penutupan pada Desember 2018. Tak kurang dari setahun kemudian pabrik di Huizhou juga berhenti berproduksi.

Padahal pada masa jayanya, kedua pabrik tersebut memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan Samsung. Baik di pasar China maupun manca negara. Sebelum ditutup pabrik di Huizhou mampu memproduksi 64 juta ponsel, sebagian besar dari output global Samsung yang mencapai 394 juta unit pada 2017. Mundur ke belakang lagi pada 2011, pabrik tersebut bisa menghasilkan 70 juta unit perangkat, sedangkan yang di Tianjin memproduksi 56 juta unit perangkat.

Meski telah menutup kedua pabriknya di negara itu, Samsung tetap menekankan pentingnya China, mengingat negara ini merupakan pasar smartphone terbesar di dunia.

“China tetap menjadi pasar yang penting bagi Samsung dan kami secara aktif berpartisipasi dalam kebijakan di China dengan mendorong pertumbuhan komponen industri,” jelas representatif Samsung.

“Kami akan terus memberikan produk dan pelayanan terbaik untuk konsumen di China serta berkontribusi untuk komunitas lokal,” imbuhnya.

Beruntung penutupan pabrik di China tidak membuat kinerja Samsung di pasar global terpengaruh. Pasalnya, Samsung memiliki sejumlah fasilitas yang sama di seluruh dunia. Untuk tetap memperluas kapasitas produksinya, mereka mengandalkan pabrik yang ada di India dan Vietnam, di mana biaya produksi lebih murah.

Ketersediaan produk yang dihasilkan pabrik-pabrik di luar China itu, membantu Samsung tetap mempertahankan posisi sebagai vendor nomor satu dunia hingga kini. Berdasarkan laporan lembaga riset Counterpoint, Samsung mampu merajai pengiriman ponsel pintar di dunia pada kuartal II-2021 dengan penguasaan pasar 18%. Disusul Xiaomi (16%), Apple (15%), Oppo (10,3%), dan Vivo (10,03%).

Sumber : seluler.id

WhatsApp chat