Selasa, Oktober 26onlinenews.co.id
Shadow

Ketua PGI: Penceramah Harus Cerdas, Bina Umat Tak Harus dengan Menjelekkan

ONLINENEWS : Ujaran kebencian atau bahkan sampai menjelekkan agama lain memang tidak sepantasnya diucapkan oleh setiap umat beragama di Indonesia.

Seperti yang terjadi pada kasus Muhammad Kece dan Ustaz Yahya Waloni yang baru-baru ini menjadi tersangka terkait ujaran kebencian dan penistaan agama.

Ketua Umum Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Pendeta Gomar Gultom, mengaku prihatin melihat fenomena tersebut. Karena menurutnya, untuk membangun masyarakat yang rukun dan damai sebaiknya mengedepankan perdamaian ketimbang bertikai.

“Saya sangat prihatin dengan fenomena menjelek-jelekkan agama lain. Dalam membangun masyarakat majemuk Indonesia yang rukun dan damai. Kita lebih baik mengedepankan titik temu ketimbang titik tengkar,” ujar Gultom saat dihubungi, Jumat (27/8).

“Biarlah titik tengkar itu menjadi bahan kajian dalam lingkup akademisi dalam ilmu perbandingan agama. Di ruang publik, sebaiknya kita semua bisa saling menghargai di tengah perbedaan yang ada,” tambahnya.

Gultom berharap para penceramah mengajak dan membina umatnya dengan cerdas. Tidak perlu dengan cara-cara menjelekkan apalagi memprovokasi.

“Harapan saya kepada seluruh umat, utamanya para penceramah, hendaknya kita lebih berupaya lagi mengajak umat beragama dengan cerdas dan tidak memprovokasi secara emosional,” ungkapnya.

Lanjutnya, Gultom mengatakan tidak seharusnya para penceramah membina umat dengan cara menjelekkan agama lainnya.

“Membina umat agar imannya bertumbuh tak harus dengan menjelekkan agama lain,” pungkasnya.

Kasus Muhammad Kece dan Yahya Waloni

Muhammad Kece yang merupakan seorang pendeta ditetapkan sebagai tersangka kasus penistaan agama. Ia dijerat dengan Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 UU ITE serta Pasal 156a KUHP.

Kece yang bernama asli Mohamad Kasman semula penganut Islam, kemudian berpindah agama pada 2001. Tak lama setelah itu, dia menjadi pendeta dan memberikan pelayanan lewat Youtube.

Tak hanya itu, polisi juga menjerat Ustaz Yahya Waloni. Ia ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri terkait dugaan ujaran kebencian dan dijerat Pasal 28 Ayat 2 dan Juncto Pasal 45 Tentang ITE dan Pasal 156 huruf a Tentang Penodaan Agama.

Yahya Waloni semula adalah pendeta yang kemudian masuk Islam pada 2006 setelah mempelajari Al-Quran selama 8 tahun.

Sumber

WhatsApp chat