Senin, September 27onlinenews.co.id
Shadow

China Sambut Pemerintahan Baru Era Taliban: Anarki Berakhir

ONLINENEWS : Jakarta — China menyambut baik  pemerintahan baru Afghanistan bentukan Taliban. Mereka menganggap pembentukan pemerintahan baru ini mengakhiri anarki selama tiga pekan kekosongan kepemimpinan di negara itu.
“China sangat mementingkan pengumuman Taliban soal pembentukan pemerintah sementara dan beberapa penempatan personel penting,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, sebagaimana dikutip AFP, Rabu (8/9).

Wen Bin kemudian melanjutkan ucapannya, “(Pembentukan) ini mengakhiri lebih dari tiga minggu anarki di Afghanistan, dan merupakan langkah yang diperlukan untuk memulihkan ketertiban dan membangun kembali negara.”

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, kemudian mengadakan pertemuan virtual dengan negara-negara yang berbatasan dengan Afghanistan, seperti Pakistan, Iran, Tajikistan, Uzbekistan, dan Turkmenistan.

Wang Yi menjanjikan bantuan makanan senilai US$31 atau sekitar Rp442 miliar untuk stok di musim dingin, tiga juta dosis vaksin, serta obat-obatan lainnya.

“Setelah keamanan dan kondisi lain terpenuhi, China bersedia membantu Afghanistan membangun proyek yang membantu meningkatkan mata pencaharian masyarakat,” katanya.

Negara tetangga, sambung Wang lagi, harus memimpin dan membimbing Taliban agar mampu membangun struktur politik yang luas dan inklusif, menyusun kebijakan domestik dan luar negeri moderat dan stabil, serta mampu mengambil sikap tegas dengan kelompok teroris.

China memang terus menyatakan siap membangun hubungan diplomatik dengan Taliban usai pengambilalihan kekuasaan oleh kelompok itu pada 15 Agustus lalu.

Sementara itu, komunitas internasional masih menunggu dan memantau perkembangan situasi sebelum akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan diplomatik atau tidak dengan Taliban.

Para pengamat mengatakan, pemerintahan yang stabil dan kooperatif di Kabul akan membuka peluang ekonomi bagi China dan memungkinkan perluasan proyek besarnya, Belt and Road Initiative (BRI).

Taliban juga bisa melihat China sebagai sumber penting untuk mendukung perekonomian Afghanistan dan berpotensi menjadi sekutu mereka.

Pekan lalu, juru bicara Taliban juga mengatakan, Beijing telah menjanjikan tambahan bantuan, khususnya untuk penanganan Covid-19.

Namun, China juga khawatir Taliban memberi dukungan kepada kelompok separatis minoritas Muslim Uighur yang berbasis di wilayah perbatasan Xinjiang.

Taliban sendiri mengklaim akan membentuk pemerintahan yang terbuka dan inklusif. Namun, sejauh ini, nama-nama yang diumumkan untuk menempati posisi strategis hanya dari kalangan veteran Taliban, juga tak melibatkan perempuan.

Sumber : cnnindonesia.com

WhatsApp chat