Sabtu, November 27onlinenews.co.id
Shadow

China Ingin Perkuat Dialog dengan ASEAN

ONLINENEWS : Presiden Joko Widodo pada Senin (22/11) menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) khusus ASEAN-China yang juga dihadiri oleh Presiden Xi Jinping. KTT ini digelar secara virtual dalam rangka memperingati tiga dasawarsa kemitraan ASEAN-China.

Kemitraan ASEAN-China sejak Oktober lalu ditingkatkan menjadi kemitraan strategis komprehensif. Peningkatan status kemitraan ini diharapkan akan berdampak bagi penguatan kerjasama di berbagai bidang antara lain kesehatan publik, integrasi ekonomi kawasan, perubahan iklim dan ekonomi digital.

Dalam jumpa pers secara virtual seusai menemai Presiden Joko Widodo menghadiri KTT ASEAN-China tersebut, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan KTT ASEAN-China itu dipimpin oleh Sultan Hassanal Bolkiah sebagai Ketua ASEAN dan Presiden Xi Jinping. Ini merupakan KTT ASEAN-China pertama dihadiri oleh pemimpin negeri Tirai Bambu itu.

Retno menambahkan saat berpidato di KTT ASEAN-China, Jinping menekankan sejumlah prioritas kemitraan antara kedua pihak di masa depan.

“Pertama, menciptakan rumah yang damai dengan memperkuat dialog, multilateralisme, menolak politik kekuatan. Dalam hal ini, RRT menyatakan kesiapannya untuk menandatangani protokol terhadap traktat SEANWFZ,” kata Retno.

Selain itu Presiden China itu, kata Retno, juga ingin menciptakan kawasan yang aman dengan memajukan kerjasama untuk resiliensi kesehatan di kawasan. China berkomitmen mendonasikan 150 juta dosis vaksin Covid-19 untuk negara-negara ASEAN. China juga berkomitmen memberikan tambahan dana US$ 5 juta bagi Dana Respon Covid-19 ASEAN, transfer teknologi kesehatan dan kerjasama medis esensial.

China juga siap bekerjasama di bidang pertahanan, kejahatan lintas batas, kontraterorisme, pengelolaan bencana dan stabilitas di Laut China Selatan.

Presiden Xi mengatakan GDI (Insitiatif Pembangunan Global) dan Visi Komunitas ASEAN 2025 dapat saling mendukung. China menyatakan siap memberikan US$ 1,5 miliar untuk bantuan pembangunan bagi tiga tahun ke depan serta mengimpor produk-produk pertanian ASEAN senilai US$ 150 miliar untuk lima tahun mendatang.

Menurut Menlu Retno, China juga mengajak ASEAN meningkatkan kerjasama dalam berbagai bidang termasuk penanganan perubahan iklim, energi bersih, pertanian ramah lingkungan dan teknologi kelautan.

Nilai Perdagangan ASEAN-China Melesat

Presiden Joko Widodo dalam KTT tersebut menyampaikan bahwa China adalah mitra dagang terbesar ASEAN dalam 12 tahun terakhir. Tahun lalu, ASEAN merupakan mitra dagang terbesar China.

Ketika kemitraan dimulai pada 1991, nilai perdagangan antara ASEAN dan China ‘hanya’ mencapai US$ 8,36 miliar. Namun tahun lalu nilai perdagangan antara kedua pihak melesat menjadi US$ 685,28 miliar.

Selama 30 tahun belakangan, investasi China di ASEAN melebihi US$ 310 miliar sehingga China menjadi sumber investasi langsung terbesar dari seluru mitra wicara ASEAN.

Jokowi mendorong penguatan kerjasama untuk mendukung transisi ekonomi, energi dan transisi digital. Dia menekankan pula menjadi tanggung jawab bersama semua negara untuk menjadikan Asia tenggara sebagai kawasan yang damai dan stabil.

China Nilai ASEAN Sebagai Tetangga Dekat

Sementara itu pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran Teuku Rezasyah mengatakan kedekatan China dengan ASEAN berada di level negara, provinsi, kota, provinsi dan sekolah. Kerjasama ASEAN-China diperkuat oleh investasi langsung China di ASEAN tanpa mempersoalkan tingkat demokrasi negara-negara ASEAN.

Secara psikologis, lanjut Rezasyah, China menilai ASEAN sebagai wilayah pinggiran mereka.

“Jadi RRT itu menempatkan China sebagai pusat dunia dan negara-negara ASEAN, Asia Timur, Asia Selatan itu adalah wilayah pinggiran dia dan diharapkan tidak menentang China, dan juga selalu mengkomunikasikan rencana jangka panjang mereka dengan China,”ujar Rezasyah.

Menurut Rezasyah, China melihat ASEAN dekat sekali dengan mereka secara politik dan ekonomi. Tapi secara strategis, ASEAN belum menentukan sikap apakah berada bersama Amerika Serikat atau China dalam konteks rivalitas global. Dalam setahun terakhir, ASEAN lebih banyak berdialog dengan Amerika ketimbang dengan China.

Sumber : voaindonesia.com

WhatsApp chat