Rabu, Oktober 27onlinenews.co.id
Shadow

Bos Yamaha: Maverick Vinales Tak Pernah Diperhitungkan Jadi Juara Dunia

ONLINENEWS : – Maverick Vinales dan tim Monster Energy Yamaha memang sudah berpisah jalan pada pertengahan musim kompetisi MotoGP 2021, tetapi perseteruan di antara kedua belah pihak masih terus berlanjut sampai sekarang.

Terkini, Managing Director Yamaha Motor Racing, Lin Jarvis, dengan gamblang mengatakan bahwa Maverick Vinales tak pernah diperhitungkan meraih gelar juara dunia selama berada dalam timnya.

Bahkan, saat pembalap andalan Repsol Honda, Marc Marquez, absen pada kejuaraan dunia MotoGP 2020 karena cedera lengan kanan.

Vinales resmi bergabung dengan tim pabrikan Yamaha pada tahun 2017, setelah dua musim membela tim pabrikan Suzuki.

Pada musim pertamanya bersama Yamaha, Vinales berhasil menempati peringkat ke-3 klasemen akhir pembalap MotoGP.

Pembalap Spanyol berjuluk Top Gun ini lalu menyelesaikan dua musim kompetisi MotoGP berikutnya bersama Yamaha di urutan ke-4 dan ke-3.

Memasuki kejuaraan dunia MotoGP 2020, relasi Maverick Vinales dan Yamaha mulai memburuk.

Meski sempat menjadi runner-up pada dua balapan beruntun di Sirkuit Jerez (MotoGP Spanyol dan MotoGP Andalusia), performa Vinales menurun dan sempat membukukan hasil gagal finis alias did not finish pada balapan MotoGP Styria 2020.

Vinales kemudian menunjukkan potensinya sebagai pembalap pemenang pada balapan MotoGP Emilia Romagna yang digelar di Sirkuit Misano.

Akan tetapi, lagi-lagi inkonsistensi penampilan menyergap Vinales.

Dari tujuh balapan tersisa pada MotoGP 2020 yang dia lakoni, Vinales hanya bisa meraih hasil terbaik yakni finis di urutan keempat pada balapan MotoGP Aragon.

Selebihnya, Vinales selalu finis di luar posisi 5 besar.

Alhasil, Vinales pun menutup MotoGP 2020 di urutan keenam, sementara gelar juara dunia menjadi milik Joan Mir dari Suzuki Ecstar.

Start bagus lalu ditampilkan Maverick Vinales pada balapan pertama MotoGP 2021.

Memacu motor YZR-M1 seri teranyar, Vinales mampu memenangi balapan perdana musim ini di Sirkuit Losail.

Namun, penyakit lama Vinales yang bernama inkonsistensi langsung kambuh pada balapan-balapan berikutnya.

Tercatat, Vinales gagal finis di posisi podium pada tujuh balapan selanjutnya yang masing-masing berlangsung di Portugal, Spanyol, Prancis, Italia, Catalunya, dan Jerman.

Vinales baru bisa kembali ke podium saat menjadi runner-up pada balapan MotoGP Belanda 2021 di Sirkuit Assen.

Friksi lalu terjadi di antara Vinales dan Yamaha pada balapan pertama di Red Bull Ring, Spielberg, Austria.

Turun pada balapan MotoGP Styria 2021, Vinales membukukan hasil terburuk sepanjang karier balapnya.

Merasa kesal, Vinales pun melakukan aksi sembrono terhadap motor YZR-M1 yang berpotensi merusak mesin serta membahayakan dirinya dan pembalap-pembalap lain.

Akibat insiden inilah, manajemen Yamaha kemudian menjatuhkan sanksi larangan balapan kepada Maverick Vinales pada dua balapan berikutnya, MotoGP Austria 2021 dan MotoGP Inggris 2021.

Tak lama setelahnya, kedua belah pihak sepakat berpisah jalan lebih awal dari kesepakatan sebelumnya yakni pada akhir musim ini.

Pasca-pengumuman tersebut, Vinales kemudian memberi kabar mengejutkan berikutnya yaitu bergabung dengan tim Aprilia Racing.

Sementara itu, Yamaha memberi promosi kepada pembalap tim satelit mereka, Franco Morbidelli, untuk menggantikan Vinales, dan merekrut Andrea Dovizioso untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Morbidelli di tim satelit.

Di atas kertas, permasalahan di antara Vinales dan Yamaha terlihat sudah selesai.

Namun, di balik itu, rupanya masih ada perasaan yang mengganjal dan membuat masing-masing pihak masih belum sepenuhnya move on.

Dalam wawancara dengan Speedweek yang dikutip BolaSport.com dari Corsedimotor, Lin Jarvis menilai bahwa Vinales tak pernah tampil konsisten selama membela Yamaha.

Oleh karena itu, Maverick Vinales tak pernah sekalipun menjadi calon juara dunia MotoGP.

“Jelas, ada beberapa hal yang tidak bisa dikatakan. Namun, Anda tidak bisa menghentikan seorang pembalap dalam mengekspresikan perasaan mereka,” kata Jarvis.

“Namun, ada beberapa batasan yang seharusnya tidak dilewati dalam konteks tertentu. Ada pembalap-pembalap pintar yang bisa menghindari beberapa pernyataan negatif. Anda tidak akan bisa menjadi lebih cepat jika Anda cuma mengkritik tim, pembangun, dan insinyur-insinyur Anda,” tutur dia.

Lebih lanjut, Jarvis membandingkan pencapaian Vinales dengan Fabio Quartararo.

Selama lima musim membalap untuk tim Yamaha, Vinales hanya bisa memenangi delapan balapan.

Jumlah kemenangan itu sama banyak dengan yang diraih Quartararo bersama Yamaha kurang dari dua tahun.

“Mengkritik diri sendiri bukan keunggulan Maverick. Dia lebih memilih mengganti kepala insinyurnya sebanyak tiga kali dan sekali mengganti manajernya. Semua pembalap seharusnya cemas dengan kesalahan-kesalahan mereka,” ujar Jarvis.

“Namun, dia tidak pernah mendapatkan musim di mana dia tampil konsisten sejak awal sampai akhir.”

“Oleh karena itu, dia tidak pernah diperhitungkan meraih gelar juara dunia. Bahkan, ketika Marc Marquez absen pada MotoGP 2020,” kata Jarvis lagi.

Maverick Vinales dan Yamaha akan menandai perpisahan mereka pada seri balap MotoGP Aragon 2021, akhir pekan ini.

Vinales dipastikan bakal membela tim Aprilia Racing, menggantikan Lorenzo Savadori, sedangkan Yamaha akan menjalani debut balapan bersama Franco Morbidelli.

Sumber : bolasport.com

WhatsApp chat