Minggu, Oktober 24onlinenews.co.id
Shadow

Babak Baru Brigjend Junior Tumilaar Stasus Panggilan Sebagai Saksi Dalam Kasus Citraland

ONLINENEWS : Kunjungan Brigjend Junior Tumilaar kali ini masih sebagai Saksi untuk memenuhi panggilan dari Petinggi TNI AD / Puspomad dibilangan Gambir Jakarta Pusat 11/10/21 tentang keterangan status Saksi perihal kejadian di kawasan Citraland yang viral di linimasa , kru OnlineNews.co.id menemui beliau pada kesempatan tadi malam,berikut tentang kisah lengkapnya.

Junior Tumilaar lahir di Jakarta 3 April 1964 tapi setelah Ayahnya meninggal tgl 2 Januari tahun 1975 , beliau ke Manado dari tahun 1975 s.d.1984 langsung masuk AKABRI DARAT (sekarang AKMIL.)

Hati nurani Brigjen TNI Junior Tumilaar terusik ketika Bintara Pembina Desa (Babinsa) dipanggil dan diperiksa polisi. Padahal Babinsa di Manado dan Minahasa cuma bermaksud membela Ari Tahiru, 69 tahun, warga pemilik lahan seluas 3,2 hektare yang bersengketa dengan pengembang Ciputra Internasional (Citraland).

Ari menguasai lahan warisan itu sejak 1970-an dan menanaminya dengan ubi dan pisang. Tapi belakangan dia tak leluasa lagi masuk ke lahannya karena tertutup pagar milik Citraland.

“Pak Ari Tahiru orang miskin, buta huruf. Dia cuma punya bukti (surat tanah) berdasarkan register atau letter C di desa. Kemudian akses ke lahannya ditutup. Coba Anda digitukan, saya saja sakit hati lihat itu,” ungkap Brigjen Junior Tumilaar saat ditemui kru onlinenews.co.id

Dia tak ingin tatanan sosial dan budaya masyarakat di daerah kelahirannya, Manado, hilang karena penggusuran. Contohnya, Kampung Winangun yang sudah ada sejak masa penjajahan Belanda, kini tak dikenali lagi karena digantikan pemukiman Citraland.
Modus semacam ini banyak terjadi di daerah-daerah lain.

Sebagai Inspektur Kodam XIII Merdeka, Junior mengaku telah berupaya meminta perhatian Forum Komunikasi Provinsi untuk dicarikan penyelesaian secara musyawarah.

Dia juga telah berkomunikasi dengan Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Nana Sudjana agar polisi bertindak profesional menangani kasus tersebut. Nana adalah temannya satu angkatan di Akabri, 1988.

Tapi semua upaya tersebut tak diindahkan. Ari Tahiru malah ditahan selama 32 hari dan Babinsa yang membelanya ikut diperiksa polisi. Brigjen Junior Tumilaar pun murka. Dia lantas menulis surat terbuka kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Sebagai perwira tinggi dengan perjalanan karir dan jenjang kepangkatan seperti sekarang dia tentu sangat paham aturan. Sebelum menjadi Inspektur Kodam, Junior pernah menjadi Komandan Kodim dan dosen di Sesko Angkatan Darat.
“Karena itu dia menulis surat terbuka dengan tulisan tangan sebagai pribadi,dan jika dikatakan oleh Slamet Ginting pengamat militer yang mengatakan tulis tangan itu adalah seni grafiti,benar adanya ungkapan isi hati.” Ujar Junior.
Saya tegaskan , jika diluaran sana banyak media mengatakan Brigjend JT di copot jabatannya setelah menulis surat terbuka kepada Kapolri itu tidak benar , Tapi saya di berikan tugas baru oleh Kasad menjadi Staff Khusus di Mabes TNI AD, sesuai yang tertulis oleh media OnlineNews.co.id.

Sekali lagi saya tegaskan,bukan saya ingin mencari popularitas dengan bicara dibeberapa media Nasional dengan aksi saya yang terjadi di Manado. Hasil dari proses pemanggilan oleh Puspomad nantinya saya pertanggung jawabkan sebagai seorang prajurit TNI,” pungkas beliau.

WhatsApp chat